loader image
Polrestabes Surabaya bersama Pemkot Akan Bangun Rumah Pendekar dan SuporterPolres Kediri Berhasil Mengamankan 15 Tersangka Penganiayaan Antar Perguruan SilatBeri Penghormatan Terakhir, Kapolres Tulungagung Pimpin Upacara Pemakaman Ps Kanit Reskrim Polsek CampurdaratKapolres Tulungagung : PIRAMIDA, Ajang Komunikasi Koordinasi dan Kolaborasi Kepolisian dengan Awak MediaJalin Silaturahmi, Kapolres Jajaran Polda Banten Kunjungi Makorem 064/MY, Darem; Rumahku Adalah Rumahmu
banner 728x250

“Ngudeq” Jenang, Tradisi Masyarakat Jawa Yang Mengandung Nilai Luhur

"Ngudeq" Jenang, Tradisi Masyarakat Jawa Yang Mengandung Nilai Luhur

banner 468x60

TULUNGAGUNG, AZMEDIA.CO.ID – Meskipun sudah jarang sekali dijumpai, khususnya di wilayah perkotaan. Tradisi “Ngudeq” (mengaduk/Proses mengolah) kue Jenang pada acara hajatan pernikahan di kalangan masyarakat Jawa, saat ini masih ada dan terjaga dengan baik.

Terutama di daerah pedesaan atau pinggiran, seperti halnya yang ada di wilayah Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung.

banner 325x300

“Tradisi Ngudeq Jenang di wilayah sini hingga kini masih banyak dijumpai, apalagi di bulan – bulan tertentu (dalam kalender Jawa) saat masyarakat banyak mengadakan hajatan baik itu pernikahan maupun khitanan,” terang Munardi (45) salah satu tokoh lingkungan di Dusun Wates, Desa Wonorejo, Kecamatan Pagerwojo. Minggu (18/09/2022).

Menurutnya, tradisi “Ngudeq Jenang” sudah merupakan tradisi masyarakat jawa yang turun temurun sejak dari nenek moyang terdahulu.

“Ini sudah jadi tradisi warga masyarakat sini sejak jamannya embah – embah kami terdahulu. Untuk itu kita sebagai generasi penerusnya sudah seharusnya nguri – uri atau melestarikannya,” tutur Munardi.

Munardi mengungkapkan, dalam tradisi “Ngudeq Jenang” juga mengandung nilai luhur yakni sikap kegotong royongan atau kerukunan antar warga dan sanak saudara.

“Biasanya pada setiap ada warga yang punya hajat, saudara atau tetangga sekitar selalu datang untuk bergotong royong membantu dari mulai sebelum hingga acara hajatan selesai, atau istilah orang sini menyebutnya dengan “Rewang” (membantu — red),” ungkapnya.

Untuk membuat Jenang Munardi menjelaskan, ada beberapa bahan yang harus dipersiapkannya. Biasanya untuk membuat jenang satu Kawah atau wajan besar dibutuhkan bahan – bahan berupa 20 Kg tepung beras, 10 Kg tepung beras ketan, 30 biji kelapa untuk bahan santan, 5 Kg gula putih, 2 Kg gula jawa dan 2 helai daun pandan. Kemudian bahan – bahan yang telah disiapkan tersebut dimasukkan ke dalam wajan besar.

Dan selanjutnya bahan – bahan yang sudah dimasukkan ke wajan besar, siap untuk proses pematangan diatas perapian berupa pawonan atau tungku besar yang terbuat dari batu – bata dan tanah menggunakan api dari kayu bakar.

“Biasanya dalam suatu acara hajatan baik mantu atau khitanan, warga disini membuat jenang sebanyak satu hingga dua kawah dan masih ditambah lagi satu kawah yakni wajik,” sambungnya.

Ditambahkannya, dalam tradisi Rewang dan Ngudeq Jenang ini juga digunakan sebagai ajang silaturahmi antar saudara, tetangga atau teman.

“Sekaligus untuk mempererat tali silaturahmi, yang mana biasanya dalam acara – acara hajatan seperti ini saudara atau teman yang lama tidak ketemu bisa ketemu dan saling menanyakan kabar satu sama lainnya,” tutupnya.

Setelah jenang yang diaduk secara bergantian tersebut matang, biasanya jenang akan dicicipi bersama – sama seusai dibagikan di pelepah pohon pisang sebagai wadah atau alasnya.(parno)

banner 325x300
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.